Dah.

Puisi ini bukan tentang perjalanan,

Bukan juga soal diam.

Aku mencoba, engkau seolah tak ingin menyapa.

Aku mengucap salam, engkau seakan menghilang.

Aku meminta doa, engkau seperti tak punya kata.

Lalu, bolehkah aku pergi sejenak?

Bila aku pergi, akankah engkau mencari?

Aku tau kau akan takut. Tapi semoga imanmu padaNya cukup kuat untuk percaya.

Bahwa pergiku bukanlah sebuah perjalanan.

Bahwa diamku ialah sebuah kata-kata.

Sampai jumpa di lain waktu,

Advertisements
Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment

Ramuan Drama (Menuju) Korea ; Ramuan 1

Haus

“Fitrah manusia ialah ketika ia meminum air, semakin banyak akan semakin kenyang. Ketika ia
meminum ilmu, dengan keseriusan, semakin banyak justru akan semakin haus.”

Hari itu hampir terlambat. Jumat, pukul 13.30, mereka menaiki angkot putih D15 jurusan
Pamulang-Lebak Bulus. Memutuskan untuk naik busway, dengan alasan murah dan nyaman. Jarak
dari Pondok Cabe, tempat kedua pemuda itu tinggal, ke Pondok Pinang, halte busway terdekat,
sekitar satu jam (di Jakarta dan sekitarnya, satuan jarak ialah jam), tanpa macet, karena orang￾orang baru saja keluar dari masjid menunaikan shalat berjamaah, jumatan, termasuk mereka
berdua.

Iqbal yang menenaminya saat pengambilan visa.

Sewaktu di angkot, ia duduk di belakang, dipenuhi dengan enam anak perempuan SMP yang baru
saja pulang sekolah, berseragam batik hijau dengan kerudung putih. Empat anak duduk sejajar
dengannya, dua lagi berhadapan. Saling mengobrolkan temannya (baca : gosip) dengan logat
Betawi nyaplak ala “kidz zaman now”.

Pengap. Seorang bapak bermata sipit, kisaran kepala lima, memegang telefon, masuk terburu-buru.
Menelfon seorang yang mungkin anak buahnya di sebuah proyek, dengan nada marah-marah.
Bertanya kepada seorang ibu setengah umur yang lebih dulu naik, tentang dimana halte busway
terdekat.

Sampai di halte Pondok Pinang. Butuh waktu satu jam menunggu bus koridor Lebak Bulus-Pasar
Senen. Orangtua bungkuk mengutuk. “(Terminal) Rambutan lagi, (Terminal) Rambutan lagi,
(Pasar) Senen meledak kali ya bisnya?!” Satu bus impian mereka datang, dan langsung disesaki
nafas-nafas panas pekerja kantor dan mahasiswa-mahasiswa berjaket almamater yang barangkali
ingin mengajukan proposal.

Perasaannya campur aduk waktu itu. Ditambah panasnya jalan Gatot Subroto yang masih dipenuhi
proyek-proyek pemerintah dan swasta. Ditambah lagi, sesuap nasi pun belum masuk ke perut
mereka sejak pagi itu.

“Kalau dokumennya lengkap, dan visa buat belajar, Insya Allah diterima kok. Ngga usah
khawatir.” Iqbal mencoba menghilangkan keraguan dari teman kamarnya itu.

“Bapak Dedy! Ini nanti kalau sudah sampai langsung lapor ke imigrasi ya!” Ujar perempuan
berkerudung, petugas pembuatan visa.

Alhamdulillah. Impiannya belajar ke Korea Selatan pun sudah 99,9 persen.

Mereka berdua keluar dari kantor kedutaan.

Hanya satu hal yang terpikir di pikiran Dedy, dan juga Iqbal.

“Makan dimana nih kita?”

Di tengah ramainya proyek dan panasnya asap kendaraan bermotor. Ditambah mobil-mobil
mewah, yang di dalamnya udara sangat dingin lagi sejuk sementara udara di luarnya terhembus
angin panas keluaran, keluar masuk gedung-gedung bertingkat itu. Yang ada hanyalah penjual
bakso Malang dan Sate Padang sepanjang jalan itu. Melangkah. Melihat riwa riwi pemuda tampan
pemudi cantik, mungkin sedang mencari pekerjaan.

“Sate Padangnya dua, bang!” Iqbal memesan, Dedy mencoba menghubungi orangtuanya,
mengungkapkan kegembiraan.

Dua orang pemuda yang sama-sama punya visi besar untuk dunia pendidikan, penelitian, dan
ekonomi negeri zamrud ini, duduk berkucur keringat, mengejar mimpi, menikmati sepiring Sate
Padang di depan kantor Kementrian Ketenagakerjaan. Februari tahun 2018 akan segera berakhir.

******************************************************************************

Sabtu, Jakarta pasti macet. Tapi mengapa tak terpikir oleh mereka berdua.

Pagi hari Dedy mulai berkemas. Menyempatkan pergi pasar untuk membeli beberapa bahan
mentah seperti mie instan. Banyak orang yang sudah berpengalaman ke luar negeri mengatakan,
sebaiknya membawa banyak mie instan, sekedar untuk bertahan beberapa hari, selama proses
penyesuaian dengan makanan baru. Selain mie instan, ia juga membeli bumbu instan kari, salah
satu makanan favoritnya sewaktu mahasiswa. Ditambah apapun ia pasti lahap memakannya.
Ayam, daging sapi, daging kambing, ataupun kentang. Siapa tau, ia bisa memasaknya lagi saat di
Korea nanti.

Iqbal yang kembali menemaninya.

Pesawatnya akan terbang pukul tiga sore. Pukul sebelas tepat mereka berangkat. Butuh sekitar dua
jam untuk sampai di bandar udara, tanpa macet. Beberapa teman dan siswa-siswanya ikut
mengantar kepergian sampai ke gerbang tempat tinggalnya.

Dedy memesan taksi online. Sopirnya masih sangat muda.

“Mau terbang kemana, Pak Dedy?” Tanya sopir taksi yang ternyata baru duduk di semester empat
perkuliahan strata satu itu. Ia belajar tentang perminyakan di Universitas Pertamina. Berharap ia
akan direkrut oleh Pertamina kelak setelah ia lulus. Banyak berdiskusi dengan Dedy sambil
menikmati perjalanan. Menceritakan sulitnya perkuliahan di Indonesia, serta kerasnya dunia
teknik.

“Saya mau ke Korea mas, belajar lagi hehe. Agak cepat ya mas, pesawat saya jam tiga sore.”

***

Jam sudah menunjukkan pukul 12.55. Waktu terakhir check in tinggal 5 menit lagi. Taksi yang
ditumpangi mereka berdua masih terjebak di pintu tol keluar menuju bandar udara. Dedy dan Iqbal
mulai panik. Sudah tidak ada waktu untuk menyesali apapun. Tinggal berpikir bagaimana solusi
yang harus agar satu-satunya tiket yang ia beli dari uang hasil menabungnya itu tak hangus.
Ditambah dzikir-dzikir ringan, berharap tidak terjadi apa-apa.

Bagaimana jika ia terlambat?

Ia sudah memberi tau orangtuanya bahwa ia akan berangkat hari ini. Jika terlambat, maka itu sama
saja berbohong. Senin esok ia harus sudah kuliah. Jika terlambat, maka ia tidak bisa mengikuti
perkuliahan untuk beberapa hari. Uang. Uang disakunya mungkin cukup untuk membeli tiket lagi.
Jika terlambat, ia bisa saja membeli tiket, tapi entah cukup atau tidak uangnya untuk bekal
beberapa hari di Korea nanti.

Campur aduk. Panik.

Dedy mengecek telepon genggamnya. Menyadari bahwa ia bisa saja melakukan check in secara
online. Tanpa berpikir panjang, ia mengikuti langkah-langkah yang diberikan maskapai.

Pukul 13.15, taksi yang ditumpanginya sampai di terminal 3. Menurunkan barang-barang,
membayar taksi, lalu bergegas lari menuju counter check in. Tak menghiraukan barang-barangnya.
Pikirnya, biar saja Iqbal menjaganya, di luar.

Alhamdulillah. Check in berhasil.
Kali ini sudah 100 persen Dedy berangkat menuju Korea Selatan.

***

Iqbal, salah satu yang paling berjasa dalam keberangkatannya. Mereka bersahabat sejak awal
masuk kuliah strata satunya. Sama-sama menjadi pembina asrama di Sekolah Kharisma Bangsa,
membuat dua pemuda ini selalu mengarungi perjalanan bersama selama lima tahun terakhirnya di
Indonesia. Mengetahui visi dan misi hidup satu sama lain. Dedy hanya yakin, suatu saat pasti
mereka akan bersama-sama lagi, membaca buku bersama, berdiskusi bersama, berjuang untuk visi
dan misi bersama. Makan bakso dan minum es teh saat sedang “haus”.

****

Foto terakhir dengan Iqbal sebelum keberangkatan ke Korea Selatan.

[Semoga bermanfaat]

Artikel ini merupakan cuplikan dari kumpulan cerita saya menuju studi di Korea Selatan. Semoga suatu saat nanti bisa saya publikasi menjadi buku. Sempatkan memberikan komentar bila anda merasa bermanfaat jika saya membagikannya dalam bentuk buku. Untuk generasi muda Indonesia.

Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment

(Puisi) Bus Menuju Nambu

Bila menurutmu,

aku datang terlalu cepat,

tak apa,

aku akan menunggu.

Aku ingin melihat keindahan

di akhir tujuan sana.

dengan petunjuk yang ada,

satu-satunya petunjuk ialah bus menuju Nambu.

Engkau butuh bahan bakar?

Engkau butuh pemeriksaan mesin?

Engkau butuh pembilasan?

tak apa,

aku akan menunggu.

Sopirmulah yang lebih tau tentang perjalanan kita.

Maka, biarlah Ia yang mempersiapkannya.

Toh aku sudah berani datang.

Terimakasih atas jawabannya,

aku akan menunggu.

더구 malam itu.

Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment

Memulai Kuliah Di DGIST, Korea (The Beginning)

Assalamualaikum. Alhamdulillah bisa berbagi lagi di tulisan yang berbeda.

Saat ini saya sudah kurang lebih 12 hari di Korea, tepatnya di kota Daegu. Patut rasanya saya ceritakan
kehidupan saya di awal-awal pindah negara hehe. Because the beginning is always the hardest part.
Semoga menginspirasi hehe.

Saya datang ke negeri K-pop ini bersama Kak Iman, beserta keluarganya, Teteh Dina, dan bayi imut,
Kayla. Beliau seorang peneliti di kampus saya. Alhamdulillah, selama beberapa hari awal di Korea, beliau
lah yang banyak membantu saya. Kami bertemu di Kuala Lumpur International Airport, saat transit.
Karena saya berangkat dari Jakarta, dan beliau dari Bandung, jadi terpisah di awal.

Sampai di Korea, kami mendarat di bandara Gimhae, kota Busan. Dilanjutkan menuju Daegu dengan bis
express. Kami tiba di hari minggu, sehingga pegawai asrama libur hehe. Alhamdulillah saya dapat
tumpangan nginep di rumah Kang Syamsul, peneliti asal Bandung yang juga baru bekerja di kampus
saya.

Kami semua di sini bertujuh. Saya, teman seangkatan saya, Humaira, Kak Iman, Teh Dina (Istri Kak Iman),
Kayla (bayi imut Kak Iman), Kang Syamsul, dan Kak Indra (peneliti postdoctoral yang sebelumnya lama di
Singapur). Sebentar lagi, mungkin akan bertambah, istri dan anak Kang Syamsul yang akan datang dari
Bandung hehe.

1. Lingkungan

Daegu termasuk kota yang panas, untuk ukuran Korea. Tapi tak sepanas Seoul lah hehe. Apalagi Jakarta.
Kalau kita biasa hidup di Malang, atau Lembang, suhunya kurang lebih sama dengan Daegu. Jadi, untuk saya tidak begitu bermasalah. Setiap harinya, selama saya di sini, suhunya antara 0 sampai 7 derajat
Celcius.

2. Makanan
Untuk urusan makanan, saya akui memang yang paling sulit hehe. Karena saya seorang Muslim, yang
truly Muslim insyaAllah hehe, jadi lumayan peduli kalau soal makanan. Di Daegu, terutama di kampus
dan asrama saya, masih jarang yang menjual makanan halal, kecuali vegetarian. Jadi, yaa harus masak
sendiri. Masaaak, masak sendiri. Tapi, Alhamdulillah teman-teman Muslim di sini sangat membantu. Kak
Iman, Kang Syamsul, Kak Indra, dan teman-teman Bangladesh, India, juga Pakistan, selalu mengulurkan
bantuan bila kita membutuhkan. Terus terang, di dua hari pertama saya, saya cuma masak Indomie
hehe.

3. Kampus dan Lab

Perkembangan akademik saya di kampus dan lab sangat signifikan. Dibanding ketika saya kuliah di
Indonesia. Profesor dan teman-teman lab sangat ramah, dan membantu. Di hari kedua saya langsung
dihadapkan dengan riset yang sangat menambah wawasan. Kalau kita makan semakin banyak memang
semakin kenyang. Tapi, kalau riset, semakin banyak, justru terasa semakin haus ilmu pengetahuan.
Profesor dan teman-teman lab saya sangat mahir berbahasa Inggris, meski kadang masih ada aksen
Korea, tapi sangat mudah dipahami. Setiap minggunya, di hari Jumat, kami mengadakan group meeting.
Membahas apa saja yang sudah kami lakukan di lab selama seminggu, dan apa yang akan kami lakukan
minggu depan. Ditambah lagi, professor memberi tugas kami untuk mereview paper-paper yang
berhubungan dengan riset kami, dan terbit di tiga bulan terakhir. Wah, pokoknya seru abis deh.
InsyaAllah ketika pulang nanti, otak akan terisi hehe.

4. Pergaulan
Selama saya di sini, so far, pergaulan baik-baik saja. Tidak seperti yang banyak orang bayangkan. Di sini
para mahasiswi berpakaian sangat tertutup dan rapih. Karena ya dingin. Kalau terbuka, masuk angin.
Kalau diminta membandingkan dengan mahasiswi yang saya temui di Jakarta, yaa bisa saya katakana, di
sini pakaian mereka lebih sopan dan rapi, sekalipun yang berhijab hanya yang muslimah hehe. Minum
dan makan sesuatu yang haram sudah lumrah bagi mereka. Dari awal saya sudah menjelaskan kepada
teman-teman saya bahwa saya memiliki pilihan untuk makanan, karena saya seorang Muslim. Dan
Subhanallah, mereka sangat menghormati itu.

Apalagi ya hehe. Nanti barangkali ada yang lupa saya ceritakan, insyaAllah akan saya tulis lagi.

Semoga bermanfaat.

Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment

Perbandingan Ngampus di Indonesia dan Korea (DGIST)

Assalamualaikum. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk sharing lagi.

Dulu, ketika saya kuliah di Indonesia, saya pikir kuliah dimana saja sama, tergantung pribadi masing-masing. Maka dari itu, saya enjoy saja kuliah di UIN.

Sekarang, setelah diberi kesempatan Allah untuk kuliah di sini, rasanya ingin menarik kalimat itu hehe. Mungkin dimana-mana sama, asalkan di Indonesia. Tapi, kalau di Korea, ternyata lumayan banyak bedanya hehe.

Kebetulan saat ini saya sudah mulai kuliah di korea, tepatnya di kota Daegu. Sudah sekitar dua minggu di sini, kiranya saya sudah bisa merasakan perbandingan kuliah di negeri saya sendiri, Indonesia, dan di negeri tempat saya belajar saat ini, Korea. Semua orang pasti
sudah tau, memang tingkat akademik di sini pastinya jauh lebih baik dibanding di negeri kita sendiri.
Tapi, saya ingin mengulas sedikit yang tidak banyak orang sangka, terutama dalam kehidupan sehari￾hari. Tujuan saya menulis ini tidak lain, yang pertama, untuk memotivasi teman-teman agar terus
belajar, membuka pikiran lebih dewasa, agar ketakwaan kita kepada Sang Kuasa juga bertambah. Kedua,
tentu saya ingin membagikan, apa yang menjadi kekurangan di negeri kita, Indonesia, dengan melihat
kemajuan di negeri gingseng ini.

1. Birokrasi Kampus
Banyak orang bilang bahwa negeri kita ialah negeri ramah tamah. Tapi, menurut saya, keramahtamahan
dalam birokrasi kampus belum sepenuhnya menjamah di kampus-kampus Indonesia. Terlepas dari
kampus lain, pelayanan yang belum pernah saya temui sebelumnya, saya temui di kampus ini. Mulai dari
pendaftaran, meski saya belum sah menjadi mahasiswa kampus tersebut, pelayanan diberikan dengan
sangat maksimal. Saya ulangi, sangat sangat maksimal. Mulai dari panduan dikirim ke email yang sangat
sangat jelas, respon email yang super cepat (waktu itu saya pernah nanya tentang pembayaran
pendaftaran, balasan dikirim 30 menit setelah saya mengirim email pertanyaannya), hingga pelayanan
online yang tidak pernah membuat kita lelah. Lelah mental saya akui jauh lebih menyebalkan daripada
lelah fisik. Jujur, itu yang saya alami ketika menghadapi birokrasi dan pegawai birokrasi kampus di negeri
sendiri. Ketika saya datang, semua keperluan yang harus diurus sudah jelas panduannya. Tak perlu repot
dan pusing. Bila harus mengurus sesuatu di tempat yang baru misalnya, tinggal tanya saja pegawai yang
pertama kali kita temui di situ, langsung diantar, sekalipun jauh. Saya sempat berkomentar kepada
pegawai yang mengantarkan saya ke tempat pengambilan kartu pelajar, yang jaraknya kurang lebih 500
meter dari tempat awal. “Why are you guys so accommodating, so kind, so serving?” Dia spontan jawab,
“It is my job. I have to do this.” Dengan senyuman yang sangat ramah. Memang, pegawai-pegawai
birokrasi di sini relatif masih muda-muda (atau tampak lebih muda), dan masih sangat energetik.
Seketika saya membayangkan, dahulu hehe, mau minta tanda tangan saja, harus mendengar teriakan,
“Bentaaar, lagi sarapan. Kamu pagi banget sih.”

2. Hightech. Serius, di sini Internet of Thingsnya sangat diaplikasikan. Hampir di setiap tempat kita temui
teknologi canggih, yang jarang kita temui di Indonesia. Yaa saya yakin pasti ada, tapi yaa cuma dijadikan
skripsi, atau lomba karya ilmiah. Contohnya student portal. Semua pelayanan akademik yang kita
butuhkan bisa diselesaikan secara online di student portal. Butuh surat-surat, sertifikat, apapun,
formatnya sudah tersedia, tinggal input sesuai kebutuhan, dan print. Tanpa perlu mondar-mandir
mencari tanda tangan. Karena di setiap surat, ataupun sertifikat, sudah tercantum tanda tangan yang
bersangkutan secara legal hehe. Selain itu, hampir semua pelayanan hidup sudah terintegrasi mesin dan
internet. Bahkan, yang paling sepele hehe, tukar uang aja ada mesinnya. Jadi ngga perlu repot-repot ke
tukang pulsa atau pedagang kaki lima.

3. Profesor yang sangat ingin mahasiswanya berkembang. Rata-rata professor di kampus saya sangat
low profile. Meski begitu, semua mahasiswa sangat segan hehe, karena memang terlihat kharisma dari
professor-profesor tersebut. Memang beda. Pinternya memang beda. Semangat ngajarnya juga beda.
Mungkin di negeri kita, para dosen terlalu banyak beban, sehingga, saya pikir, beberapa dosen belum
terlihat passion untuk mengajar dengan semangat dan ikhlas hehe. Saya jujur apa adanya loh. Terus
terang, dari saya semester 6 hingga 8 saya belum mengerti apa itu Fermi level, dan probabilitas
menemukan elektron di potensial tertentu. (fisika zat padat, fisika kuantum, dan termodinamika). Hanya butuh dua minggu saya untuk belajar itu semua dengan Prof. Chung, saya mengerti, semaksimal
mungkin hehe. Lain kali deh saya jelasin kalau mau.

4. Semua fasilitas kampus penuh untuk mahasiswa. Mahasiswa-mahasiswa di sini memang terlatih
bertanggungjawab. Kita ditanamkan bahwa barang atau fasilitas yang diberikan oleh kampus ialah milik
kita, dan untuk kemajuan kita. Maka kita wajib menjaga dan menggunakan sebaik mungkin. Budaya ini
yang seharusnya kita contoh, sebagai mahasiswa Indonesia yang kuliah di negeri sendiri, bila ingin maju
hehe.
Terakhir, tentunya teman-teman dan lingkungannya. Banyak sekali perbedaan yang bisa dibandingkan,
dan memang rata-rata orang sudah tau.
Meski begitu, kuliah di sini tetap ada ups and downs nya. Namanya juga kehidupan. Tapi, asalkan kita
terus berkeinginan untuk belajar dari ups and downs itu, saya yakin kita semua bisa menjadi pribadi
yang lebih baik seiring waktu. Ingin rasanya memiliki seperti apa yang di atas saya sebutkan di negeri
kita sendiri. Kapan ya? InsyaAllah suatu saat nanti. Dengan kita generasi muda yang terus belajar, bukan
tidak mungkin, Indonesia akan jauh lebih maju.

Semoga bermanfaat. 🙂

Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment

Ringkasan Lika-liku Menuju Korea Selatan

Assalamualaikum.

Salam untuk semuanya.

Di tulisan saya yang singkat ini, saya ingin meringkas sedikit lika liku saya menuju kuliah di Korea Selatan. Sesuai namanya, yaitu ringkasan, cerita yang akan saya bagikan hanya garis-garis besarnya saja. Sedangkan detil perjalanannya sepertinya tidak cukup bila dibagikan di blog hehe.

Sebelum ke lika-likunya, bagi yang baru kali ini berkunjung ke blog saya, saya perkenalkan sekilas tentang diri saya terlebih dahulu, berkaitan dengan tulisan saya ini. Saya baru saja menyelesaikan pendidikan Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan fisika pada tahun 2017. Saat ini saya baru saja akan memulai studi strata 2 dan 3 saya di jurusan Energy Science and Engineering, Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology (DGIST), Daegu, Korea Selatan. Saya mendapatkan beasiswa riset, yang memenuhi biaya kuliah dan biaya hidup saya selama 5 tahun, yaitu untuk program integrasi Master dan PhD. Selain kuliah saya juga diminta untuk membantu penelitian di Batteries and Materials Discovery Lab, di bawah bimbingan Prof. Seung-Tae Hong, salah satu lulusan Seoul National University, yang ahli dalam bidang kristalografi material, khususnya material baterai.

Awal mula cerita dimulai ketika saya menyelesaikan tugas akhir atau riset di Pusat Penelitian Fisika, LIPI. Kala itu, saya melakukan riset selama kurang lebih 9 bulan, yaitu awal April hingga Desember 2016, di bawah bimbingan Bapak Achmad Subhan. Keseriusan saya dalam riset, membuahkan hasil yang memuaskan. Alhamdulillah, kami berhasil membuat material baterai ion lithium dengan kualitas yang memuaskan, dengan tambahan material (doping) limbah kulit telur.

Melihat keseriusan saya dalam riset, Bapak Achmad Subhan menyarankan saya untuk melanjutkan studi ke Korea Selatan. Di awal tahun 2017, beliau mengenalkan saya pada Prof. Taeseup Song dari Yeungnam University, yang sempat bertemu dengan saya di Universitas Indonesia kala itu. Saya pun dengan mudah mendapat rekomedasi dari beliau untuk diterima di Yeungnam University, dalam keadaan saya belum lulus strata 1.

17203037_1421794877841911_1368866566904258475_n

Saya pun sangat senang, dan bersemangat untuk menyelesaikan studi saya di bulan Mei 2017, agar bisa berangkat ke Korea di bulan Agustus 2017, untuk memulai kuliah.

Drama dimulai ketika Yeungnam University, mengubah syarat yang diperlukan untuk beasiswa full, ketika itu, yaitu nilai kompetensi Bahasa Inggris yang sangat tinggi, yaitu IELTS 7,0 (sebelumnya 6,5). Sedangkan nilai saya hanya 6,5, yang artinya beasiswa yang akan saya terima tidak full selama satu semester pertama. Ditambah lagi drama bahwa kelulusan tercepat di jurusan saya ialah Agustus 2017, yang artinya saya harus menunda satu semester untuk mendaftar kuliah di Yeungnam University. Kekecewaan memang sangat saya rasakan kala itu.

Berbagai jalan saya tempuh. Sempat mendapat kesempatan untuk mendaftar di Seoul National University, namun di akhir-akhir pendaftaran terlalu banyak drama yang menghambat, sehingga kesempatan itupun lenyap. Kak Dimas (kakak tingkat bimbingan Bapak Achmad Subhan yang sudah lebih dulu kuliah di Korea) banyak membantu saya, salah satunya memberikan saya jalan untuk mendapat rekomendasi dari profesor beliau di Chonnam University. Namun apa daya, lab beliau belum menerima mahasiswa internasional seperti kami. Sambil mengirimkan proposal-proposal riset, saya juga sempat iseng daftar di universitas-universitas selain di Korea, seperti Inggris dan Belanda. Hingga waktu mendekati akhir kelulusan, sinar terang belum juga tampak.

Tapi saya tidak menyerah.

Alhamdulillah, kabar baik saya terima melalui email bahwa Prof. Seung Tae Hong menerima pengajuan proposal saya dan bersedia memberikan rekomendasi. Pendaftaran hingga detik-detik akhir pun saya urus dengan serius, hingga akhirnya saya diterima di program integrasi Master-PhD dan membantu beliau dalam risetnya sehari-hari. Meski di akhir-akhir saya juga diterima di The University of Liverpool, saya tetap memantapkan niat saya untuk menuntut ilmu di Korea Selatan.

Sekali lagi, cerita ini saya sampaikan dengan sangat ringkas, dan bila ada kesempatan untuk berbagi lebih detail lagi, saya akan sangat.

Poin dan pesan yang ingin saya sampaikan sebenarnya hanya satu. Ibu saya selalu berpesan, bahwa setiap orang memiliki kesuksesannya masing-masing, sesuai tujuan dan niat masing-masing. Yang boleh kita hakimi ialah diri kita sendiri, apakah sudah mencapai tujuan ataukah belum. Yang harus diingat ialah tidak akan ada kesuksesan tanpa sakit perjuangan di awal perjalanan. Tugas kita yang serius ingin menggapainya, ialah berusaha semaksimal mungkin dengan etika tanpa mengenal menyerah. Karena ada beribu jalan menuju kesuksesan, tapi hanya ada satu jalan agar terhindar dari kegagalan, yaitu tidak menyerah. Semudah apapun kita menggapainya, bila itu bukan hak kita, maka tidak akan menjadi milik kita. Sesulit apapun kita menggapainya, bila tujuan kita selalu dalam ridho Allah, insya Allah akan dimudahkan, dan menjadi milik kita. Karena sejatinya bukan kita yang hebat, tapi Allah yang memudahkannya.

Saya akan sangat senang bila teman-teman ingin saling berbagi. Bisa menuliskan komentar, atau email dedysetiawan.indonesia@gmail.com, atau tambahkan facebook saya Dedy Setiawan, atau follow instagram saya @dedys_id

Semoga bermanfaat.

Sekian. Wassalamualaikum.

Posted in Dalam Perjalanan | 2 Comments

Cumlaude Siapa Takut?

Assalamualaikum. Salam untuk semuanya.

Kali ini saya ingin berbagi tentang nilai kuliah. Mengingat saya baru saja lulus dari sarjana strata 1. Alhamdulillah, saya bisa membanggakan kedua orangtua saya dengan mendapat predikat cumlaude, dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Bukan sombong, tapi supaya teman-teman yang membaca tulisan ini yakin dengan apa yang saya paparkan hehe. Semoga teman-teman tidak bosan membaca sampai akhir, karena pesan dan poin setiap tulisan saya kerap saya letakkan di bagian akhir.

New Doc 2017-12-26 (3)

Teman-teman yang sedang duduk di bangku kuliah pasti tak asing mendengar kata cumlaude. Cumlaude ialah predikat diberikan kepada seseorang yang mampu lulus pendidikan lanjut dengan nilai yang sangat baik. Banyak orang yang mengincar predikat ini, karena terbilang sangat berguna untuk karir kita setelah kuliah. Selain itu juga, pasti membanggakan hehe.

Menurut saya, setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri untuk meraih tujuannya, salah satunya untuk bisa dapat cumlaude. Termasuk saya. Tidak bisa dihakimi bahwa yang saya lakukan ialah satu-satunya cara untuk bisa dapat cumlaude. Tidak biasa. Tetapi, sedikit pengalaman saya selama kuliah yang saya bagikan ini barangkali bisa teman-teman jadikan contoh supaya bila teman-teman mendapat pahala, manfaatnya juga bisa mengalir ke saya pribadi.

Di awal kuliah, saya sudah mengatur skala prioritas saya. Prioritas utama saya ialah belajar. Maka, waktu saya dalam sehari, paling banyak harus saya kerahkan untuk belajar, meski tidak banyak orang yang mengetahui. Belajar tidak perlu ngoyo, yang penting konsisten dengan waktu dan porsi belajar kita sehari-hari. Memperbaiki kesalahan-kesalahan kita sewaktu ujian, menambal kekurangan-kekurangan kita dalam suatu mata kuliah, sangatlah membantu untuk mendapat nilai kuliah yang memuaskan.

Bagaimana dengan organisasi? Belajar berorganisasi di kampus sangatlah penting. Selain itu, kampus memang tempat terbaik untuk belajar melakukannya. Oleh karena itu, saya juga sempat mencicipi belajar berorganisasi. Karena berorganisasi tidak masuk ke prioritas utama saya selama kuliah, maka saya terjun dalam organisasi ketika mata kuliah dalam semester itu saya anggap tidak terlalu berat untuk dijalani. Sehingga, saya dengan mudah membagi waktu dan prioritasnya. Jadi, bagi yang prioritasnya seperti saya, patut diingat bahwa jajal medan kuliah dulu, setelah dirasa ringan, baru terjun ke organisasi. Sehingga ombak dalam lika liku organisasi tidak mengganggu prioritas utama kita. Alhamdulillah di semester 3 – 7 saya bisa belajar banyak di himpunan mahasiswa, dan sempat diamanahi menjadi ketua saat saya duduk di semester 5.

Bagaimana bila kita kuliah sambil kerja? Ini juga penting. Selama saya kuliah, sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus, saya sudah bekerja secara volunteer di Sekolah Kharisma Bangsa. Pengalaman kepemimpinan saya justru saya dapatkan di sini.  “The best way to improve your leadership is becoming a volunteer.” – Dr. Muhammad Yunus. Di atas pukul 5 sore, saya harus sudah berada di sekolah untuk mengerjakan kewajiban saya, hingga pukul 11.00. Oleh karena itu, di selang waktu tersebut, saya tidak bisa mencampur adukkan kegiatan kuliah dengan pekerjaan saya. Yang saya lakukan ialah mengejar kewajiban kuliah saya selama saya masih di kampus, sehingga ketika harus mengerjakan kewajiban lainnya, sudah tidak ada beban lagi.

Katanya dosen juga berpengaruh? Ya betul. Memang beberapa dosen bersifat subjektif bagi teman-teman mahasiswa yang tidak taat dengan kontrak kuliah mereka. Jadi, bila ingin mendapatkan sikap yang objektif, maka patuhilah kontrak kuliah mereka.

Dari semua paparan saya, poin yang ingin saya sampaikan ialah kita tak perlu secara intelegensi untuk mendapat predikat cumlaude. Yang kita perlu lakukan ialah pintar-pintar dalam mengatur skala prioritas. Meski sebenarnya masih banyak faktor yang lain, tapi skala prioritas, menurut saya ialah yang paling penting.

Terlepas dari semua itu, mendapat predikat cumlaude sebenarnya tidak patut dijadikan tujuan utama dalam kuliah. Selayaknya tujuan kuliah ialah mendapatkan ilmu secara maksimal, supaya bisa menjadi bekal kita selama menjalani kehidupan di dunia ini, juga di akhirat nanti. Sedangkan, hal-hal yang bersifat bonus, selayaknya hanya dijadikan target, sehingga ketika kita berhasil, kita akan mendapat manfaatnya, sedangkan bila gagal, kita tidak akan kecewa.

Bila ingin saling berbagi lebih banyak, jangan sungkan-sungkan untuk mengontak saya di kolom komentar, atau email dedysetiawan.indonesia@gmail.com, atau follow Facebook saya Dedy Setiawan, dan instagram @dedys_id

Sekian terima kasih. Wasalamualaikum.

Semoga bermanfaat.

Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment

Empat Mata dengan Profesor dari Korea Selatan

Bismillah. Selamat pagi, siang, atau malam, tergantung teman-teman membacanya 🙂

Saya tulis dalam Bahasa Indonesia, bukan karena saya ngga bisa Bahasa Inggris. Tapi, yaa biar yang menikmati tulisan saya orang yang bisa Bahasa Indonesia aja hehe.

Saya ingin sedikit berbagi pengalaman langka ini kepada teman-teman yang membutuhkan, menginginkan, atau sekedar numpang lewat di blog saya. Semoga pengalaman yang saya bagikan bermanfaat bagi teman-teman semua.
Tanggal 16 Desember 2017 lalu, saya dikontak oleh Prof. Seung-Tae Hong, salah seorang profesor dan peneliti di Battery Materials Discovery Lab. Korea Selatan. Kali pertama saya bertemu beliau, meskipun hanya melalui aplikasi Skype, setelah beberapa kali saling mengontak melalui email. Selain itu, sebelumnya belum ada profesor dari Korea Selatan yang menginginkan diskusi langsung secara empat mata dengan saya. Biasanya, sang profesor dan saya hanya saling mengirim email, yang saya pun terkadang ragu dengan lancarnya percakapan. Meskipun ada satu profesor, Prof. Taeseup Song, yang waktu itu langsung datang ke Indonesia dan bertemu saya sekaligus memberi kuliah umum di UI, depok. Jadi, kesempatan ini sangatlah langka bagi seorang yang hobinya ngirim proposal riset ke profesor, seperti saya.
Selain itu, alasan saya ingin berbagi dengan tulisan ini, ialah untuk teman-teman yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3 melalui jalur profesor, barangkali suatu saat akan mengalami perjalanan seperti saya. Bagi yang mengambil jalur lain, kemungkinan akan menghadapi interviewer dari pihak kampus, atau pemberi beasiswa.
Baiklah, saya mulai yaa…
Profesor Hong mulai mengemail saya dengan tujuan ingin bicara empat mata melalui Skype atau FaceTime sejak tanggal 5 Desember 2017. Sebelumnya kami hanya saling kontak via email. Di waktu itu juga, beliau yang menentukan jadwal empat matanya. Saat itu saya tidak langsung membalas email beliau. Karenaaa…. Saya ngga punya Skype atau FaceTime, ngga tau cara downloadnya, ngga tau cara pakainya, dan masih banyak lagi haha.
“Sesungguhnya Allah telah menutupi aibmu, lalu mengapa engkau buka?”
biar mereka tau ya Allah, kalau saya ini bukan siapa-siapa.
Ya cukup sekian.
Maksud saya lanjut lagi.
Ya. dan selama tiga hari, saya belajar dari teman-teman kantor, wal hasil subhanallah ternyata Skype sudah bawaan laptop saya. Saya aja yang ternyata ngga pernah browsing dan pakai. Saya pun membalas email sang profesor dan memberikan Skype ID saya.
Tibalah tanggal 15 Desember, dimana artinya besok tanggal 16. Satu hal yang saya lupa. Ini nanti akan ditanya apa aja ya?! Saya mulai berpikir. Ngga mungkin dong saya nanya ke profnya, “Prof, nanti akan nanya apa aja?” Zonk.
Wal hasil, saya belajar segala hal yang berkaitan dengan profesor tersebut. Malam itu juga saya khatamkan paper-paper sang profesor. Saya pelajari lagi riset-riset beliau, sampai mabok.
Besok paginya, semua sudah saya siapkan. Laptop, internet, pakaian rapi, serta ruangan (dibantu Pak Nurhadi, Kepsek Kharisma Bangsa hehe). Sekitar satu jam sebelum waktunya, sang profesor sudah mengontak saya melalui chat Skype, meminta saya untuk menyiapkan kertas dan pensil. Waduh. Mati aku. Disuruh apa nanti. Wal hasil, saya langsung buka laptop. Buka catatan kuliah, skripsi, dan apa saja yang bisa saya temukan. Saya hafalkan semua rumus yang berkaitan dengan riset beliau. Ya saya panik.
Satu jam berlalu, dan akhirnya percakapan dapat kami lakukan, selama kurang lebih 45 menit.
Kurang lebih isi percakapannya sebagai berikut.
Pertama, saya ditanya kembali tentang kejelasan biodata, pengalaman riset, kampus, tempat tinggal, dan hal-hal lain yang sifatnya personal. Dalam tahap ini, asal Bahasa Inggris teman-teman mumpuni dan pede, insyaAllah lancar. Mungkin beliau ingin memastikan, bahwa yang selama ini beliau baca melalui email itu benar adanya.
Kedua, beliau ingin saya memberikan solusi terkait riset beliau, yang sebenarnya sudah saya utarakan jauh hari melalui email. Nah, di bagian ini sangat tergantung pada seberapa bagus kemampuan teman-teman menjelaskan proposal, dan topik riset yang ingin teman-teman kerjakan.
Setelah semuanya selesai, dan kertas masih kosong. Beliau mengatakan, “Okay, last thing. This is just a basic question. Just want to know how good your understanding of chemistry, physics, and math.” Beliau mengatakan itu sambil tertawa. Saya pun tersenyum, padahal tegang. Semoga rumus yang tadi saya hafalkan berguna.
Pertanyaan pertama, lumayan sulit. Saya diminta menyebutkan pengetahuan saya tentang simetri kristal. Dan saya sudah lupa semua. (Oh Allah, mukaku dimana). Di situlah sebenarnya kertas dan pensil tadi berguna. Seandainya saya menuliskan kembali satu persatu, mungkin saya akan ingat. Tapi, karena kepanikan saya, saya spontan menjawab, “Honestly, I don’t remember all, but what I can say is bla bla (saya mulai mengarang)”. Profesor pun spontan memotong, “Okay hehe, actually you don’t have to remember it, but what you have mentioned is not actually true hahaha.” Beliau tertawa karena tau saya hanya mengarang. Saya pun ikut tertawa.
Pertanyaan kedua, ialah pertanyaan yang sangat-sangat basic. maaf boros kata. Beliau menanyakan kepada saya tentang jenis-jenis ikatan kimia. Lagi-lagi, sebenarnya saya tau. Tapi karena saya panik, saya lupa. Kali ini saya jujur dengan beliau, bahwa saya lupa, dan saya sangat menyesal haha. Mengapa? Karena sebenarnya saya sangat menguasai itu. Ya toh? Ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan logam, ikatan hidrogren, ikatan Van der Walls. Di luar kepala loh aku. Oh Allah, inikah penyesalan terbesar saya.
Pertanyaan ketiga, cukup basic juga. Beliau meminta saya untuk menyelesaikan soal-soal matematika, derivative, integral, dsb. Juga soal-soal dasar Fisika-Kimia, yang Alhamdulillah masih saya jangkau. Dan Alhamdulillah saya masih punya muka.
Meskipun begitu, Profesor Hong tidak menunjukkan kekecewaannya. Beliau sangat ramah dan baik hati hehe.
The point is..
Pada intinya, kita harus tahu, bahwa profesor bukan merupakan interviewer biasa, yang bisa kita bodoh-bodohi tentang topik riset yang kita miliki. Beliau sangat menguasai segala sesuatu mengenahi riset tersebut. Iyalah, profesor.
Jika teman-teman mengalami kejadian seperti saya, cobalah memanfaatkan kertas yang teman-teman punya. Mintalah waktu untuk berpikir, dan memanggil kembali ingatan-ingatan yang teman-teman lupa. Cobalah untuk tetap santai, tapi pede. Saya yakin mereka tidak seseram interviewer-interviewer seperti yang diceritakan saat wawancara beasiswa. Karena, ketika profesor itu mengingikan empat mata, artinya beliau hanya ingin lebih dekat dengan calon mahasiswanya.
Itu saja yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa berbagi lagi di lain kesempatan.
Terimakasih.
Semoga bermanfaat. [DS]
Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment

Loncatan

Tiap manusia memiliki tempat ternyamannya

dimana ia merasa lega dengan duduknya
lalu ia mulai merencanakan ini itu

tapi kadang di titik tertentu, otak dan hatinya tak menyatu
Ia sadar kemudian, bahwa pikir tak akan berkembang dengan duduk nyaman

lalu mulalilah berpikiran, bahwa melangkah menjadi sebuah tujuan
Melangkah bukan berarti sebuah pengkhianatan

Atau pembalasan pada hal kurang baik yang ia dapatkan di tempat nyaman

bukan.
Pikirnya yang menentukan sendiri

agar otak yang selama ini menyetir dapat sejalan dengan hati

agar semoga langkah penuh rahmat ini senantiasa diridhoi.

Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment

Filosofi Lemari Lensa

Seburam-buramnya lensa, ia tetap patut untuk dijaga. Mengapa tetap harus dijaga? Bayangkan bila lensa itu tak dijaga, mulai muncul jamur, lalu digerogoti. Atau jatuh, lalu pecah.

Taukah? lemari lensa berbeda dengan lemari lainnya. Tak cukup dengan kotak kosong dilengkapi pintu, yang jika lebih mewah, ada kuncinya. Tidak. Lemari lensa terbuat dari bahan yang tak mudah berkarat, yang jika terlalu lama tak dibuka dia akan ngiler. Lemari lensa dilengkapi dengan penghangat, yang menjaga udara agar tidak lembab, supaya jamur-jamur penggerogot itu tak sanggup bernafas. Lemari lensa juga dilengkapi penjaga suhu, yang dapat mengingatkan pemiliknya, jika suhu dalam ruangan lensa tak stabil.

Lalu, sudahkah raga kita menyamai lemari lensa dalam menjaga hatinya?

Posted in Dalam Perjalanan | Leave a comment